Assalamu'alaikum wr. wb.
Cover buku
Islam adalah Dien para Rosul yang mencakup seluruh sisi kehidupan.Dan Aqidah merupakan bagian terpenting dari Al-Islam.
Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang sepaham dengannya.
Risalah kecil ini menjelaskan karakteristik pejuang Aqidah yang wajib dimiliki bagi pejuang.
Kepribadian Pejuang Aqidah
Aqidah adalah ikatan spiritual yang mengikat seseorang dengan Rabbnya. Ia merupakan ikatan yang kukuh, yang tak tergoyahkan oleh adanya krisis materi atau penindasan manusia. Karena ia merupakan ikatan ruh dengan Haqiqat luhur dan ikatan yang terpatri dengan kemantapan hati dan pancaran pemikiran antara sang pejuang dan da'wahnya.
Sungguh keliru orang yang menganggap aliran pemikiran atau ide-ide buatan manusia yang dijadikan falsafah politik dan ekonomi sebagai Aqidah, meski dalam beberapa fenomena dan tujuannya ada yang sama.
Aqidah tumbuh dari ruh dan berkembang dari qalbu serta berhubungan dengan sebab-sebab samawi. Karena itu ia bersifat abadi, sebagaimana tampak keabadian Aqidah yang dibawa para Nabi dan Rasul. Dan keabadian ini tidak didapat di dalam teori dan pemikiran sosial filosof dan sarjana manapun.
Pejuang Aqidah adalah pejuang yang memiliki jiwa pengorbanan,yang hidup untuk al-Haq dan mati dijalan al-Haq Baginya seorang pejuang Aqidah, Aqidah adalah segala-galanya.
Aqidah adalah thabi'ah bukan ilmu, syu'ur bukan falsafah dan khuluq bukan ide, sebab, hatilah yang menangkap pengetahuan samawi dan memancarkan dorongan-dorongan luhur; dorongan kebaikan antara fenomena jiwa Insaniyah Akal hanyalah gambaran pemikiran yang serba terbatas dan dengan akal semata orang tidak cukup untuk mengetahui haqiqat luhur. Akal, dalam keterbatasannya itu, akan merasakan kepuasan yang dalam bila dengan Aqidah.
Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang yang sefaham dengannya. " Tidak ada ikatan yang paling kuat selain ikatan Aqidah dan tidak ada Aqidah yang paling kuat selain Islam," demikian Imam Hasan al-Banna menyatakan.
Islam Aqidah Menyeluruh
Islam adalah dien para Rasul yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Barangkali karakter dan tujuan Islam dapat diungkapkan dalam dua kata: tauhid dan wihdah atau iman dan ishlah. Pengertian ini dapat kita tangkap dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya seorang Arab Badui:
"Tunjukkan aku pada sesuatu di dalam Islam yang aku tidak akan menanyakan di dalamnya kepada siapapun setelah engkau." Rasulullah SAW bersabda, "Katakan: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamalah".
Islam yang hanif ini datang dengan membawa sistem sosial yang sempurna yang mengatur milik pribadi, kehidupan keluarga, hubungan kemasyarakatan, dasar-dasar kenegaraan, faktor-faktor kesatuan dan politik dunia. Sistem tersebut melahirkan dasar-dasar kerohanian yang sangat bijak, di dalamnya menyatu nilai-nilai luhur dan kenyataan yang berhubungan erat dengan alam manusia, sehingga dari dasar-dasar teoritis ini beralih menjadi amal harian rutin yang mudah tanpa ada rasa keterpaksaan dan keengganan. Allah berfirman:
"Allah tidak hendak menyulitkan kamu,tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'matNya bagimu supaya kamu bersyukur." (QS. al-Ma'idah: 6)
Islam menegakkan Daulah ideal yang kukuh dan kuat Daulah Islamiyah ibarat satu bangunan yang kukuh tinggi yang tegak diatas fondasi yang kuat, empat tembok,atap
dan pagar. Pondasinya ialah Ma'rifatullah dan Tauhid.
Temboknya yang empat terdiri atas:
1. Ibadah
Terutama shalat sebagai mi'raj seorang Muslim kepada Rabbnya dan merupakan tiang Islam pertama. Dengan shalat manusia dapat berhubungan dengan Rabbnya.Ia adalah perjalanan spiritual yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Ibadah adalah tujuan diciptakan manusia dan sebab eksistensinya. Firman Allah:
"Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadat kepada-Ku" (QS. al-Dzariyat: 56).
2. Ilmu
Islam mendorong manusia supaya menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan. Atas dasar ilmu manusia mendapatkan keutamaan dan keistimewaan. Allah berfirman:
"Allah meninggikan orang-orang beriman dari kamu seka lian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa dera jat." (QS. al-mujadalah: 11)
Dengan ilmu orang dapat meraih dunia dan akhirat sekaligus sebagaimana dikatakan Imam Syafi'i "Barangsiapa menghendaki dunia,maka ia harus dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki akhirat, maka ia harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka ia harus dengan ilmu."
3. Ukhuwwah
Ia adalah ikatan yang paling kuat yang mengikat seluruh kaum Mu'minin dan menjaga mereka dari keterpecahbelahan serta menyatukan hati mereka. Dengan ukhuwwah, kaum Mu'minin menjadi seperti bangunan yang tersusun rapih antara satu sama lainnya saling menguatkan. Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang Mu'min itu bersaudara." (QS. al-Hujurat: 10)
4. Tasyri'
Tasyri' adalah dasar-dasar yang harus di-iltizam(komitmen)-i ummat dan diikuti manhaj(sistem)nya.Tasyri'lah yang memelihara eksistensi ummat dan menentukan arah serta meluruskan jalan nya. Firman Allah:
"Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas satu syari' at dari urusan (dien) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. al-Jatsiyah: 18)
Atap yang menjadikan tembok yang empat ini kukuh adalah hukum (pemerintahan). Ia adalah kekuatan pelaksana dan pengarah. Di dalam sebuah atsar dikatakan:
"Sesungguhnya Allah memberi dengan kekuasaan apa-apa yang tidak diberikan dengan Qur'an."
Dalam sebuah hadits dinyatakan:
"Ikatan Islam akan terurai satu demi satu, pertamanya dengan menentang hukum (pemerintahan) dan akhirnya (meninggalkan) shalat."
Hasan Bishri berkata:
"Jika da'wah ini (kewajiban) bagiku, niscaya ia (juga kewajiban) bagi penguasa. Sebab, Allah memperbaiki banyak akhlaq dengan perbaikannya."
Sedangkan pagar yang melindungi bangunan Islam adalah Jihad. Ia merupakan penjaga terpercaya yang dapat melindunginya. Firman Allah:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu salah satu yang kamu benci." (QS. al-Baqarah: 216)
"Sesungguhnya orang-orang Mu'min itu ialah orang yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. al-Hujurat:15)
Sehubungan dengan hal-hal tersebut imperialis dan antek-anteknya berusaha keras meruntuhkan da'wah Islam.
Mereka meruntuhkan Ibadah dengan cara mendirikan dan menggalakkan perjudian, permainan dan kebejatan.
Mereka mencoba meruntuhkan Ilmu dengan cara merusak sistem pendidikan dan pengajaran serta terlalu mementingkan kulit dan mengabaikan intinya.
Mereka menghancurkan ukhuwwah dengan cara menumbuhkan partai-partai politik.
Mereka memerangi hukum Islam dengan cara menerapkan undang-undang buatan manusia.
Pokoknya kaum imperialis itu memerangi seluruh aspek Islam sampai Islam hanya menjadi acara ritual di masjid-masjid dan dijadikan alat melegimitasi program-program penguasa. Para penguasa kaum Muslimin dewasa ini merendahkan Islam. Mereka menipu orang-orang awam dan melempar Islam dari kekuatan politik dan perundang-undangan Bahkan ada diantara orang-orang yang disebut sebagai cendekiawan Muslim yang begitu bersemangat meruntuhkan beberapa aspek Islam, seperti dikatakan bahwa Islam tidak mempunyai konsep tentang masalah- masalah sosial dan lain semacamnya.
Begitulah, Islam diperangi dari dalam dan dari luar. Namun Islam, sebagai kekuatan al-Haq, akan menang sebagaimana pernah menang terhadap rongrongan Abu Jahal dan Ibnu Ubay.Islam akan menang menghadapi serbuan musuh dan tipu daya Munafiqin dari dalam. Islam akan kembali sebagai sesuatu yang asing seperti ia pertama kali datang. Maka berbahagialah orang-orang yang termasuk Ghuruba, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Siapa Ghuruba termaksud? ialah para pejuang Aqidah disepanjang masa dan disetiap generasi. Mereka adalah Haqiqat yang senantiasa diperangi para pembela kesesatan dan Nur yang selalu dirongrong para pembela kegelapan. Firman Allah:
"Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka"(QS.al-An'am:90)
Karakteristik Pejuang Aqidah
1. Iman
Iman adalah Aqidah yang tetap menguasai intuisi dan fikrah(pemikiran) yang mantap, yang dapat mengendalikan aktivitas dan cita-cita serta mengarahkan perilaku manusia kepada tujuan hidupnya.
Iman kepada Allah merupakan sumber arus keutamaan pribadi dan masyarakat. Dalam Islam ada iman terhadap tujuan dan iman terhadap kepemimpinan, sebagaimana tercermin dalam syi'ar besar Islam dan kalimah Tauhid.
Tauhid, dalam Islam, adalah sumber kemerdekaan pribadi dan masyarakat. Seseorang yang mengimani Allah semata adalah yang memiliki kendali hidup,yang menyerahkan dirinya hanya kepada-Nya dan terbebas dari pengaruh syetan. Inilah hakikat kemerdekaan jiwa bagi seseorang. Ummat yang mengimani hakikat ini tidak akan tertundukkan oleh sang angkara murka manapun dan tidak dapat dilumpuhkan dengan besi dan api. Mengapa? Karena ia memiliki kekuatan iman, laksana api yang dapat melelehkan besi atau air yang dapat memadamkan api. Inilah hakikat kemerdekaan bagi suatu bangsa.
Pejuang Aqidah ialah orang yang merefleksikan seluruh ma'na Syahadatain dan menyertakannya dalam setiap gerak dan tingkah lakunya. Ia adalah orang yang mengimani Rabbnya, percaya diri dan yakin akan kemenangan.
2. I'tisham
I'tisham ini salah satu sifat yang dijadikan sasaran serangan musuh-musuh Islam. Mereka berusaha merusaknya di dalam jiwa kita. Mereka mengecap i'tisham sebagai ta'ashshub. Sebagai kaum Muslimin ada yang jiwanya telah tertipu musuh-musuh Islam tersebut. Padahal, hakikat i'tisham ialah istimsak (berpegang teguh) kepada al-Haq, bulat hati dan percaya penuh kepadanya. Allah berfirman:
"Maka berpegang teguhlah kamu kepada dien yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada diatas jalan yang benar." (QS.al-Zukhruf: 43).
Perhatikanlah, bagaimana Allah menyerukan agar manusia berpegang teguh kepada al-Haq. Dan Allah memberikan isyarat halus bahwa berpegang teguh kepada al-Haq merupakan jalan ishlah(perbaikan) dan cara yang ditempuh para Mushlih(pembangun) dan du'at. Firman Allah:
"Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab serta mendirikan shalat (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan."(QS. al-A'raf: 170)
I'tisham adalah i'tizaz(kebanggaan) terhadap al-Haq dan ta'asysyuq(gandrung) kepadanya melebihi kehormatan dan kedudukan dirinya. Firman Allah:
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mu'min dari diri mereka sendiri." (QS. al-Ahzab: 6)
Ungkapan paling indah dalam menggambarkan kegandrungan kepada al-Haq dan kekuatan berpegang teguh kepada da'wah adalah kata-kata Rasulullah SAW berkata:
"Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku supaya aku meninggalkan da'wah ini,niscaya aku tidak akan meninggalkannya."
I'tisham mengandung ma'na al-Hubb(cinta) karena Allah dan al-Bughd(benci) karena Allah.Ummat tidak akan berjaya kalau tidak mengenal saudara-saudaranya, yang dengan mereka saling menjalin kasih sayang dan menyatu. Demikian pula ummat tidak akan menang tanpa mengenal musuh-musuh tersebut ia bersikap tegas tanpa mudahanah dan riya'. Allah memperingatkan kaum Muslimin agar tidak condong kepada musuh-musuh Islam dan mengikuti kehendak dan tradisi mereka. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman."
"Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
(QS. Ali Imran: 100-101).
Bagi suatu bangsa, tidak ada yang lebih parah selain dari ketidakperdulian bangsa tersebut terhadap faktor-faktor asasi dan eksistensi internasionalnya, baik berupa bahasa, peranannya dalam pertemuan-pertemuan, perundang-undangan atau tradisi.
3. Al-Shidq
Seorang pejuang Aqidah adalah manusia jujur dan mengiltizami kejujuran dalam setiap hal. Perasaan dan dhamir(nurani)nya jujur. Ia mampu menangkap ma'na al-Haq, al Khair dan al-Jamal serta menggandrunginya dengan lurus dan benar. Ia jujur dalam kata-katanya, tidak pernah berdusta. Jujur dalam jihad, tidak pernah khianat, berlaku kotor, membangkang dan tidak lari dari medan tempur. Di dalam sejarah Islam orang pertama masuk Islam disebut al-Shiddiq, Abu Bakar al-Shiddiq. Sedangkan orang murtad dari Islam yang paling jahat disebut al-Kadzdzab, Musailamah al-Kadzdzab.
Arti keistiqamahan seorang pejuang Aqidah terhadap al-Haq dan al-Shidq tidak boleh ditafsiri sebagai jumud, tidak tahu taktik dan strategi. Seorang pejuang Aqidah memandang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal dan kecerdikan musuh-musuh dengan menggunakan kaca-mata bashirahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
"Mu'min itu bijak lagi cerdas."
"Hati-hatilah terhadap firasat seorang Mu'min, karena ia memandang dengan Nur Allah."
Sejarah membuktikan, al-Haq akhirnya selalu menang dalam setiap pertarungan dengan al-Bathil, meski pertarungan tersebut pada awalnya dimenangkan oleh al-Bathil dan memakan waktu lama, penuh risiko dan derita. Allah berfirman:
"Allah telah menetapkan: "Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perka sa." (QS. al-Mujadalah: 21).
Al-Shidq merupakan pertanda kejernihan hati nurani dan ketinggian cita-cita. Sedangkan al-Kidzb merupakan fenomena kedunguan, keputusasaan dan kekotoran hati. Suatu jama'ah akan selamat dan teratur apabila seluruh anggotanya memelihara sifat shidq ini.
4. Al-Quwwah
Al-Quwwah adalah sifat yang harus dimiliki seorang pejuang Aqidah. Dengan kekuatan da'wahnya dapat terlindungi dan bersama kekuatan, ia bergerak dijalan al-Haq dan al-Khair. Dengan kekuatan seorang pejuang Aqidah dapat mempertahankan diri dan membuat gentar musuh-musuhnya. Tetapi, kekuatan ini, oleh seorang pejuang Aqidah tidak akan digunakan untuk permusuhan dan merusak bumi. Dalam kaitan ini Allah berfirman:
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya ; sedang Allah mengetahuinya." (QS. al-Anfal: 60)
Dengan kekuatan prima seorang pejuang Aqidah mengarungi lautan perjuangan dan menguak jalannya tanpa takut gentar dan ragu-ragu. Rasulullah SAW bersabda:
"Mu'min yang kuat lebih baik dari pada Mu'min yang lemah."
Seorang pejuang Aqidah tidak akan mengenal arti lemah. Setiap cobaan dan tantangan akan semakin memperkukuh tekad, keimanan, kekuatan dan kepercayaan pada dirinya Allah berfirman:
"Yaitu orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,"maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah yang menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung."(QS.Ali Imran 73)
Pejuang Aqidah adalah manusia yang kuat fisik dan mentalnya, yang tidak tergoyahkan oleh berbagai krisis. Ia kuat dengan kekuatan Allah, kaya dengan kekayaan-Nya, mampu dengan qudrat-Nya, dan besar dengan keagungan-Nya.
5. Tadhhiyyah (Pengorbanan)
Pejuang Aqidah menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya panjang, tujuan yang akan dicapainya jauh dan banyak rintangan yang harus diatasi. Karena itu ia melengkapi dirinya dengan sifat shabar yang mantap dan tekad yang kuat, serta ketahanan yang prima. Sehingga ia dapat mengatasi berbagai rintangan dengan tenang dan meyakinkan. Dengan demikian, seorang pejuang Aqidah harus memiliki jiwa besar agar dalam menghadapi perjuangan yang beruntun tersebut selalu mantap dan teguh. Perjuangan menuntut jiwa pengorbanan, kesabaran dan penyerahan pendukungnya. Hal tersebut merupakan syarat kemenangan.
Perjuangan Aqidah tidak ditaburi bunga, harta dan kesenangan. Malah jalannya penuh rintangan, tantangan, duri dan kerikil-kerikil tajam. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW mengisyaratkan:
"Surga itu diiringi dengan makarih (sesuatu yang tidak disukai) dan neraka itu diiringi dengan syahwat."
Pejuang Aqidah tidak takut mati. Bahkan ia mencita-citakan mati dalam memperjuangkan Aqidah. Ia tidak takut dibuang sebab pembuangan baginya merupakan tugas riset yang menyenangkan, seperti ia memandang penjara sebagai kesempatan untuk beri'tikaf dan bermunajat. Ibnu Taimiyyah:
"Bagiku penjara merupakan saat menyepi, pembuangan merupakan rekreasi dan kematian adalah syahadah."
Imam Hasan al-Banna mengatakan, "Mati itu mempunyai tiga kedudukan, yaitu Mawtu al-Hayat, Mawtu al-Fana dan Mawtu al-Baqa'. Mawtu al-Hayat ialah orang yang hidup-nya seperti bangkai yang adanya seperti tiada. Ia hidup tanpa pemikiran, Aqidah dan burhan. Sedangkan yang dimaksud dengan Mawtu al-Fana' ialah orang yang mati seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan. Ia mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti.Ia musnah dengan kemusnahannya. Mawtu al-Baqa' ialah matinya seorang pejuang Aqidah. Kematiannya merupakan pembangkit semangat generasi dan jasanya tetap dikenang dalam sejarah. Sesungguhnya ia laki-laki al-Haq. Karena itu selama al-Haq masih hidup, ia tidak akan mati, dan tidak akan punah. Sebab,ia adalah da'i ila Allah,dan Allah itu langgeng.
6. Al-Shabr dan Al-Tsabat
Shabar adalah menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai. Ia merupakan kemerdekaan jiwa dari segala macam pengaruh syahwat. Dengan keshabaran orang mampu mengatasi segala siksaan dan penderitaan. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bershabarlah kamu dan kuatkanlah keshabaranmu dan tetaplah bersiap siaga." (QS. Ali Imran: 200)
Keshabaran merupakan warisan kepemimpinan manusia. Firman Allah:
"Dan Kami jadikan diantara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka shabar." (QS. Sajadah: 24)
Seorang pejuang Aqidah harus memiliki keshabaran dan ketetapan. Kesejatian seorang Mujahid terlihat pada saat terjadinya krisis dan kegoncangan. Ia tidak merasa lemah dan sedih. Jiwanya selalu tegar dan tidak kenal menyerah. Seorang Mu'min hakiki akan selalu tersenyum, baik pada senang, susah, menang ataupun pada saat terjadi goncangan. Imam Hasan al-Banna berkata,
"Antara kemenangan dan kekalahan ada shabar sesaat."
Keshabaran dan nafas panjang dua hal yang harus dimiliki para da'i. Rasulullah SAW selama 13 tahun di Makkah menyeru manusia supaya memeluk Dien Allah. Beliau dibalas dengan keingkaran dan tantangan yang mengakibatkan ia menerima berbagai siksaan dan penindasan.
Shabar itu ada dua macam,yaitu: 1. shabar kecil shabar terhadap sesuatu yang tidak disukai dan 2. shabar besar shabar terhadap sesuatu yang dicintai.
Tetapi keshabaran ini tidak boleh disalah-artikan. Dalam masa kegelapan dan kelemahan ini orang sering mengartikan shabar sebagai menyerah terhadap kezhaliman yang menimpanya, tidak mau melakukan tindakan pembelaan, meski hak-haknya dirampas dan harga dirinya diperkosa. Ini jelas bukan keshabaran yang dimaksud. Malah sikap seperti ini dicap oleh Allah sebagai zhalim linafsih (menganiaya diri) dan akan ditimpa kehinaan dan siksaan. Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) Malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kami ini? Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di bumi." Para Malaikat berkata, " Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS> an - Nisa': 97)
Allah, dalam al-Qur'an, memuji sekelompok manusia yang membela diri dari kezhaliman.Bahkan disebutnya sebagai ciri Mu'min. Firman Allah:
"Dan orang-orang yang jika mereka ditimpa kezhaliman, mereka membela diri." (QS. al-Syura: 39)
Keshabaran hakiki ialah yang tumbuh dari kemampuan dan kerelaan, bukan dari kelemahan dan keterpaksaan.
7. Al-Ikhlash
Ikhlash ialah menunjukkan niyat semata-mata tha'at kepada Allah dan membersihkannya dari pandangan makhluq. Ikhlash merupakan sikap melupakan pandangan makhluq dengan cara selalu memandang kepada Khaliq. Ia merupakan ma'na kemerdekaan,ketinggian dan kebersihan dari nafsu kemanusiaan,kegelapan hawa nafsu dan ambisinya yang mengotori kehidupan.
Ikhlash merupakan rahasia antara hamba dan Rabbnya. Dalam hadits qudsi dinyatakan:
"Ikhlash itu rahasia dari rahasia-Ku yang diletakkan di hati hamba yang menyintai-Ku."
Ikhlash ini mudah tertanam hanya pada orang-orang yang dirahmati Allah. Zahid, ketika ditanya tentang sesuatu yang paling sulit di dalam jiwa seseorang , menjawab, "Yaitu ikhlash, karena tidak ada bagian nafsu di dalamnya."
Karena itu, setiap prajurit Aqidah harus ikhlash beramal semata-mata karena Allah, dan selalu mengontrol nafsu dari pintu-pintu syetan yang sangat halus.Rasulullah SAW bersabda:
"Takutlah kepada syirik ini (tidak ikhlash) karena ia lebih halus dari pada bulu seekor semut."
Ketika Rasulullah SAW ditanya bagaimana cara membersihkannya, ia menjawab, "Berdo'alah kepada Allah seperti do'a ini:
"Ya Allah sesungguhnya kami berlindung dengan-Mu dari kami menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak kami ketahui."
Pejuang Aqidah adalah prajurit tak terkenal yang tidak ambisius. Ambisinya hanyalah agar amalnya diterima oleh Allah SWT. Pembela Aqidah dapat meningkat derajatnya dengan memurnikan arah perjuangannya hanya kepada Allah dan menumpukan kepada keridhaan-Nya,tanpa keinginan dipandang manusia. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang taqwa dan tidak menonjol. Yaitu orang yang bila hadir tidak populer dan bila tidak ada tidak dicari-cari."
Karena itu Umar ra. tidak henti-hentinya menanyakan kepada Khudzaifah al-Yamani ra.,"Apakah engkau lihat didalam diriku sebagian sifat nifaq?"
Seluruh pasir dilautan tidak dapat memadamkan murka Allah. Tetapi air mata seorang Mukhlish, dikala sendiri nan sepi, dapat memadamkannya.Maka seorang pejuang Aqidah di saat-saat tertentu,ia memanjatkan munajatnya kepada Rabbnya seraya menangisi kesalahan-kesalahannya .
Ia terus menerus melakukan muhasabah terhadap dirinya.
8. Tajarrud (Totalitas)
Dua mata pedang tidak mungkin berada dalam satu sarung, dua hati tidak mungkin berada dalam satu jiwa. Demikian pula,seorang pejuang Aqidah harus memurnikan Aqidahnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Maka ia tidak mensyarikatkan Aqidahnya dengan Aqidah lain. Seorang pejuang Aqidah menjadikan seluruh hatinya sebagai khazanah (gudang) da'wahnya. Bersama Aqidah ia hidup.Seluruh qalbu dan akalnya terisi oleh Aqidah.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW kepada Bani Syaiban ketika Bani Syaiban berjanji kepadanya untuk melakukan pertolongan terbatas. Rasulullah bersabda :
"Sesungguhnya Dien ini tidak dapat dibela kecuali oleh orang yang mau membelanya dari segala segi."
Ada anak bertanya pada bapaknya,seorang Sufi,"Wahai bapakku apakah engkau menyintai Allah?"Bapaknya menjawab "Ya." Anaknya bertanya lagi,"Apakah bapak mencintaiku?" Jawabnya, "Ya, wahai anakku." Lalu sang anak menanyakan lagi,"Mungkinkah satu hati dapat menghimpun dua cinta?"
Dari pertanyaan anak tersebut jelas menunjukkan bahwa ia menghendaki orang seperti ayahnya semestinya memiliki hati yang hanya dipenuhi Hubbullah, tidak usah memikirkan yang selain-Nya.
Khatimah
Di sepanjang sejarah pembela Aqidah tidak banyak. Tetapi tidak banyaknya mereka tidak menghalangi untuk mencapai kemenangan mereka banyak ditentukan oleh bantuan kekuatan samawi dan dukungan Allah SWT. Firman Allah:
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabar." (QS. al-Baqarah: 249)
Para pejuang Aqidah dan Haq akan tetap teguh meski orang-orang yang disekelilingnya dilanda kegoncangan. Keteguhan mereka inilah yang dapat menenteramkan goncangan dunia. Mereka tak memperdulikan amarah dan cemoohan manusia. Sebab, mereka yakin kepada Rabb mereka, percaya akan pertolongan-Nya dan mereka melihat kerasnya ujian sebagai isyarat kemenangan.Mereka berjalan dijalan yang penuh batu dan duri.Mereka bangga karena al-Haq itu agung dan berharga.Perjalanan Aqidah dan haq ini hanya dilalui oleh orang-orang berhati pahlawan yang tangguh, yaitu orang-orang yang antara hati dan da'watu al-Haq ada keterjalinan yang erat.
Mereka adalah peristiwa-peristiwa terbesar karena mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan dari Allah SWT dan mereka selalu bergembira dengan da'wahnya. Allah berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Yunus: 62)
Ali bin Abi Thalib menyifati mereka ini dengan kata-katanya:
"Mereka bergembira terhadap ruh yaqin,merasa mudah terhadap kesulitan para mutraf, berlaku lemah lembut terhadap apa yang diperlakukan keras oleh para jahil dan menggantungkan ruh mereka ketempat yang tinggi."
Para pejuang Aqidah hidup, bukan dihidupi dunia. Mereka memakan sebagian dunia bukan dimakan dunia. Mereka memandang dunia apa adanya. Bashirahnya selalu mengintip apa-apa yang ada dibalik dunia, yaitu keabadian.
"Mereka itu adalah Hizbullah(golongan Allah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Hizbullah(golongan Allah), merekalah yang menang." (QS. al- Mujaadalah: 32 )
Karakteristik Pejuang Aqidah: Daar al-Da'wah
tarbiyah@isnet.org
Last edited by Akhmad Yunianto Dec 30th 2001
